Tuesday, March 17, 2015

Cerita yang menyentuh hati

Tidak selalu hidup berada di puncak gunung. Kebanyakan dimulai dari bawah. Ada juga yang sudah duluan di puncak, biasanya keluarga anak orang berada. Tetapi tidak semua orang berada berpikiran se-enaknya kepada penerusnya. Jadilah tukang gosok kamar mandi dulu baru bisa jadi Manager tangguh. Itu prinsip mereka. Perjuangan untuk menjadi seseorang yang hebat tidaklah mudah. Waktu juga yang menebusnya, ada faktor keberuntungan di dalamnya, sebuah doa- doa orang tua kita dan apa yang disebut sebagai takdir.
Dan bagaimana dengan seseorang yang sedang meneruskan perjuangan hidup nya tiba- tiba kehilangan semuanya termasuk anak dan istrinya. Kehancuran yang tiba- tiba bagaikan angin topan membinasakankan semua kehidupannya dengan kecepatan yang begitu cepat. Bahkan rasanya baru saja kemarin. Tiada ampun sehingga jika sebuah cerita itu hanya mitos adanya ternyata dalam realita banyak terjadi mungkin sudah ada puluhan tahun lalu.
Mungkinkah seseorang sanggup bertahan dari malapetaka itu? Iya dan tidak. Diperlukan proses dan pemulihan yang panjang dan konsisten. Kembali kepada dirinya dan Sang Pencipta agar hidupnya seimbang lagi. Tidak ada jslan lain selain memohon kepada Alloh S.W.T. Jika memang harus diminta kembali dan dibinasakan maka terjadilah sesuai dengan janjinya. Manusia itu jauh dari sempurna. Penuh dosa dan kebaikan. Cobaan bisa datangnya dari Manusia yang iri, dengki, sakit hati dan sebagsinya dan cobaan bisa juga langsung kepada Manusianya, mungkin sakit yang lama, keluarga dapat musibah dan sebagainya. Mungkin sejenak kita harus bercermin, apakah yang selama itu kita lakukan? Apakah kita sudah lupa? Jika kita masih merasa di coba artinya Alloh masih memperhatikan yang mungkin sudah ditegur tetapi belum mengerti juga. Berpikirlah dengan logika hingga semua ini menjadi cerita dalam hidup walau harus dibayar mahal. Tidak ada yang sanggup bertahan atas kesombongan, kejahatan, pendustaan, dan lain sebagainya. Kebaikan adalah tempat teratas, cahaya terang putih yang selalu menang. Seorang yang jahat dibalas dengan sesuatu yang jahat lalu seseorang yang baik menjadi jahat karena membalas dengan kejahatan. Itulah lingkaran setan yang harus dihindari. Yang bagus jadi buruk lalu yang buruk jadi bagus. Semua perlakuan selalu ada balasannya. 


Tahun demi tahun dilewatinya. Betapa sulitnya mencari pekerjaan. Apalagi yang diharapkan selain punya penghasilan. Lembar daftar riwat hidup demi lembar masuk ke berbagai perusahaan, panggilan untuk wawancara, semua membutuhkan biaya besar. Peluh membasahi pakaian, muka dan pikiran, ternyata keadaan orang ini belum siap dari hantaman hidupnya beberapa tahun lalu hingga suatu hari dia siap untuk menghadapi dunia yang isinya riuh bagai pusaran air yang siap tersedot kedalamnya. Hingga terpikir mungkin dengan berjualan akan merubah nasibnya. Dilakukannya usaha kecil- kecil, dan ternyata tidak berhasil. Pikirannya belum siap dengan semua itu. Bagaimana tidak,
Dia sudah kehilangan anak anak tersayangnya, tempat tinggal mereka, pekerjaannya, namun apa mau dikata dia pun harus bangkit untuk bisa menghidupi dulu dirinya sendiri. Tidak ada satu orang pun yang faham dengan kondisi umumnya. Mungkin ini lebih menyakitkan daripada seseorang yang tersakiti. Pekerjaan demi pekerjaan diambilnya. Dikumpulkannya sen demi sen untuk biaya anaknya. Betapa kompleks apa yang dia jalani, hingga dia pun bingung mana yang harus jadi prioritas. Pulang hingga larut malam, tidak ada waktu selain bangun pagi buta dan pulang malam pekat. Hingga dia sempat putus asa, disetiap doanya bercucuran air mata namun senyum dan sapaan anaknya yang bisa menguatkan jiwa dan raganya. Hanya mereka harta tersisa.

Beberapa tahun kemudian.
Suatu hari dia datang mengunjungi anaknya dengan baju sangat rapih, berdasi,sepatu hitam mengkilap. Dia jemput anaknya di sekolah. Betapa anaknya bangga dan rindu melihat Ayahnya datang menjemputnya. Mereka tidak langsung pulang tetapi jalan bersama dan mencari tempat makan kesukaan anaknya. Tersirat senyum dibibir mereka, dia merasakan kebahagiaan yang tulus dan hakiki. Dia dengar dari anaknya bahwa anaknya bangga bahwa Ayahnya sudah berhasil. Sebelumnya sering ditanya sama teman-temannya, Ayahnya kerja dimana. Perih rasanya mendengar ucapan itu. Dulu ketika Ayahnya bekerja dia bangga dan percaya diri. 

Sang Ayah membawanya ketempat dimana dulu sering berkunjung yaitu sebuah toko mainan dan juga mereka menonton film. Satu hari itu rasanya bagai satu detik. Berat berpisah dengan anaknya. Perasaannya tenang, bahagia sekaligus bergemuruh silih berganti.

Suatu hari anaknya study tour keluar kota bersama- sama gurunya selama 2 hari. Selain berkunjung ke museum, perpustakaan, tempat bersejarah dan pada hari kedua yaitu hari terakhir, mereka diberikan kebebasan untuk berbelanja di sebuah mall. Tentu ini yang mereka sukai dan mereka tunggu. Disaat mereka sedang berkumpul di pintu masuk mall dan para guru pun berpesan agar jangan keluar lokasi yang sudah ditentukan. Mereka harus kumpul pada waktu yang sudah di jadwalkan dan tempatnya sudah ditentukan. Tiba- tiba teman- temannya histeris ingin berphoto bersama idola mereka yaitu badut Hello Kitty. Semua merapat kearah badut itu. Hingga satu- satu diphoto. Selesai itu mereka bubar termasuk  sang badut. Dibukanya topeng kepala badut itu dan tersenyumlah Pria ini kepada temannya sambil ngobrol dan berjalan namun dari jauh ada suara memanggilnya, suara yang dia kenal. Panggilan yang tidak asing lagi. Sejenak dia terkejut namun Sang Ayah tetap tersenyum dan dihampiri anaknya sambil ditekuk lutut-nya kemudian dipeluknya anaknya erat sekali, walau senyum terlihat namun air matanya menetes tidak tertahankan. Ada rasa haru dan bahagia bercampur aduk. Teman- temannya heran dan ada yang ikut terharu sedih melihat kejadian itu. Namun anak ini luar biasa, dia begitu kuat dan tegar, dia tidak malu mengatakan bahwa ini adalah Ayahnya. Dipeluknya lagi anaknya dan sambil berkata, 

" Sayang, beginilah Ayah mencari uang buatmu, maafkan Ayah jika berbohong waktu itu, karena Ayah tidak ingin kamu malu".


Dan sang anak pun menjawabnya, 


" Terimakasih Ayah, Kaka selalu sayang sama Ayah dan selalu berdoa kelak Ayah jadi orang hebat dan disayang Alloh". 

Tidak terasa waktu bergulir hingga petang hari, mereka harus pergi kembali ke bis masing- masing dan pulang. Lambaian tangan mereka seolah kepakan sayap merpati yang terbang jauh sejauh raga mereka terpisah oleh jarak. Dan kemudiàn Sang Ayah merasakan hening suasana di Mall itu seolah pendengarannya tertutup dan semuanya bergerak lambat, hingga dia tersadar kembali. Mata indah anaknya senantiasa membuatnya selalu kuat dan berjuang bagai pejuang di terik padang pasir demi sang anak. Hanya senyum yang dàpat dia lakukan saat itu dengan tatapan matanya berbinar terus memperhatikan bis itu sampai hilang dari pandangannya.

Betapa kenyataan kadang tidak bisa dipercaya oleh sekejap mata, bahwa seorang Ayah ini tadinya punya pekerjaan yang baik dan terhormat, tempat tinggal yang bagus dan nyaman, keluarga harmonis lalu pada akhirnya sang Ayah bertahan hidup dengan menjadi seorang badut sebagai penghasilannya yang tentu nilainya jauh dengan penghasilannya dulu. Terkadang dia tidak makan seharian karena uangnya dikumpulkan untuk biaya jajan anaknya atau biaya yang mendadak. Uang yang sedikit menjadi nikmat terasa dibandingkan dulu, rasanya inilah rejeki murni dari Alloh S.W.T. Dan walau demikiansederhana penghasilannya namun masih bisa sedekah di mesjid saat sholat hari Jumat walau tidak seberapa jumlahnya.

Dia terus rasakan derita ini, terus dia nikmati kepedihan ini hingga jadi kekuatan. Dia terus bersabar dan ikhlas menerima semua ini hingga jadi pembersih hati, walau dia kadang tidak siap menjadi Manusia biasa yang hanya bekerja untuk menyambung hidupnya, Manusia yang tidak penting, tidak dianggap bagi sebuah perusahaan, Manusia yang lemah, tetapi dia masih punya keinginan dan prinsip. Hidup terus berjalan teman. Dan dari kesabaran maka terjadilah keajaiban secara harafiah. Nikmat dan bahagia berbeda dengan keinginan kita tetapi ini sudah terbaik buatnya dan belajar mati sebelum benar- benar mati. 

Semoga bermanfaat dan bisa mengambil nilai- nilai baiknya. 

*cerita untuk DSR, semoga sempat membacanya.


No comments:

Post a Comment