Thursday, October 18, 2012

Cerita seorang pria tentang Ayahnya


 Saya adalah anak satu- satunya di keluarga ini.......dan inilah kisahku......

Ketika saya masih kecil, setiap hari aku lihat Ayahku begitu sibuk dengan pekerjaannya. Terkadang Ayahku pulang larut malam sehingga tidak sempat bertemu denganku.
Besoknya Ayahku sudah pergi bekerja ........
 bahkan kami tidak pernah makan bersama di meja makan..
Terkadang waktu libur pun, Ayahku selalu bertemu dengan rekan usahanya..............
Pernah suatu hari aku bilang ingin pergi bersama ke tempat sirkus, namun Ayahku bilang, " Besok kamu diantar sama Ibu-mu".
Sepertinya Ayahku tidak pernah ada waktu untuk bersama saya. Saya terkadang merasa iri melihat teman- teman yang kadang dijemput oleh Ayah mereka, saya iri karena mereka bisa bermain bersama Ayahnya. Saya pun iri selalu saja ada waktu untuk bisa bersama Ayah mereka...........


 Waktu terus berjalan.....
Ketika saya belajar di bangku kuliah....
Ayahku masih saja sibuk membangun istananya...
namun saya tidak terlalu memikirkannya sebab pikiranku sudah jauh kedepan, memikirkan masa depanku.......





Kini aku sudah bekerja dan hidup mapan, ................
.......................................... dan aku ternyata juga sibuk membangun istana ku untuk keluargaku,
saat ini Ayahku sudah tidak bekerja lagi ......
Ayahku hanya tinggal bersama Ibuku di rumahnya ............




Setiap minggu dan bahkan dua kali sehari, Ayahku sering meneleponku, dan Ayahku bilang kenapa tidak pernah mampir ke rumahnya. Ayahku ingin aku bisa punya waktu untuk berkunjung ke rumahnya......walaupun hanya sebentar saja ......Ayahku ingin bisa keluar bersama denganku ke taman atau makan malam dan berbicara.....denganku.
namun aku katakan bahwa nanti kalau ada waktu akan secepatnya datang berkunjung......
Namun begitulah........
Saya terlalu sibuk dengan dunia ini, seperti ketika dulu Ayahku membangun istananya dan sekarang saya lupa, bahwa Ayahku ternyata mengharapkan anaknya berada disisinya........................
Hingga terakhir hidupnya, saya hanya bisa bertemu sekali saja, yaitu disaat pemakamannya.....
selamat jalan Ayah..........
seandainya waktu bisa diputar kembali....
seandainya.......seandainya.......

sungguh tragis hidup ini ........ namun hidup terus berjalan .........................

No comments:

Post a Comment