Showing posts with label Cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita pendek. Show all posts

Tuesday, June 23, 2015

Semuanya berawal disini


•Membangun sebuah mimpi

Bagaimana rasanya kembali ke kota kelahiran setelah puluhan tahun ditinggalkan? Menarik memang, keadaan yang sanggup membuat kita seolah kembali ke masa lalu dalam sekejap mata. Tidak hanya saja orang-orang yang kita cintai sudah tiada namun sebuah tempat yang sudah termakan waktu menjadikan semacam siluete dalam pikiran kita. Pernahkah kita seolah melihat dan mendengar masa lalu begitu nyata? Seakan kita berada di dalamnya. Terkadang kenangan yang kuat bisa membawa kita kedalam waktu yang hilang itu, kita bisa merasakan aroma wewangian di masa lalu.


•Perjalanan ini
Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dengan pesawat terbang, saya memutuskan melanjutkan nya dengan naik kereta api. Bagi saya naik kereta api itu punya nilai sejarah tersendiri. Teringat masa kecil saya dan Ibu saya selalu berpergian jauh menggunakan kereta api. Dulu saya menyukai kereta api karena makanannya enak dan tidak membuat saya pusing dan mabuk. Di kereta api saya bisa lari kesana kemari dan tidur dengan selimut hangat. 




Begitu tiba di kota ini dimana saya menghabiskan waktu masa kecil dan muda, langkah ini sangat berat penuh kenangan saat turun dari kereta api. Saya bisa merasakan semilir angin segar yang membawa saya langsung kepada suatu tempat. Saya tahu bahwa tidak ada seseorang yang akan saya temui disana. Kedua orang tua saya sudah lama pergi selamanya. Biarpun demikian saya masih punya cerita di sudut-sudut jalan, di sebuah rumah yang dulu pernah saya tinggali walau keadaan dan orangnya sudah berbeda. Sejenak saya menarik nafas menikmati suasana tenang dan nyaman. Saya memutuskan untuk berjalan kaki menelusuri setiap jalan kenangan itu. Lelah pun tidak saya rasakan, kegembiraan dan emosi ini sudah cukup menutupi pikiran saya. Kota ini tidak besar dan masih banyak bangunan tua nya, penduduknya masih saling menyapa dengan senyum mereka yang tulus. Disinilah keindahan sebuah kota kecil yang hanya bisa kita rasakan dibandingkan dengan kota-kota besar. Kemudian saya mencari penginapan sederhana di jantung kota.


•Melintas waktu
Jam menunjukan pukul 5 pagi dan setelah selesai mandi saya bergegas keluar untuk menikmati suasana pagi yang masih berembun itu. Udara di luar masih dingin, jalanan masih sepi hanya beberapa orang yang terlihat sepertinya mau ke pasar. Tidak terasa saya sampai di sebuah pasar setempat dan sungguh hal yang membahagiakan melihat mereka berlalu lalang membawa sayur mayur, ayam potong dan kehidupan yang sibuk itu menambah keindahàn pagi. Di salah satu sudut jalan saya ingin mencoba makanan kecil yang dijual. Saya ingat dulu sering membeli makanan itu ditempat ini. Ternyata penjual makanan ini seorang Wanita masih muda namun saya masih ingat bahwa tepatnya disini.
"Dulu saya sering kemari dan langganan-nya Ibu, apa beliau masih jualan?
Si Wanita ini tersenyum dan mengatakan:
"Beliau adalah Ibu saya, namun sudah meninggal 7 tahun silam".
Sungguh hebat mereka yang masih bisa bertahan dan meneruskan makanan paling enak itu. Ternyata begitu banyak hal-hal yang sudah berlalu dimakan waktu. Saya teruskan perjalanan pagi itu untuk melihat rumah bekas kami tinggal. Setiap jalan pun saya teringat akan masa lalu bahkan ketika saya kehilangan uang yang jatuh diantara selokan itu. Sampailah saya di depan rumah dan segalanya sudah berubah. Bagunan bekas rumah itu sudah tidak ada dan kini bangunan itu berubah menjadi sebuah klinik kesehatan. Hilang sudah gambaran akan rumah itu tetapi tidak dengan kenangannya. 

•Sesuatu yang berharga
Salah satu daftar yang saya tulis adalah ingin bertemu dengan seorang Pria yang dahulu membeli kendaraan pertama saya. Dia katakan akan merawatnya sampai rusak dan tidak akan dijual. Rasa penasaran dengan cerita itu dan kendaraan itu punya cerita yang panjang. Pertama mendapat pekerjaan lalu setelah terkumpul cukup uangnya saya beli kendaraan bekas itu. Sudah membawa saya dalam suka dan duka, bahkan saya bertemu dengan istri saya karena kebetulan mogok di depan rumahnya. Ketika anak-anak kami ada, kendaraan ini mengantar mereka ke sekolah. Ketika orang tua saya sakit kendaraan inilah yang mengantar beliau ke dokter. Ketika saya tidak punya uang karena keluar bekerja, kendaraan inilah saksinya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk berwira usaha, kendaraan ini menjadi kendaraan operasional. 
Ternyata janji si pembeli kendaraan itu benar, saya masih melihatnya tersimpan di garasi. Begitu masuk saya disambut seorang anak laki-laki, kemudian saya kenalkan diri dan ingin berjumpa dengan Bapaknya. Tidak lama keluar seorang Wanita dengan ramah dia mempersilakan saya untuk masuk. Rupanya istri nya masih ingat saya. Setelah beberapa menit berbicara, Wanita ini berkata:
"Bapak sudah tidak ada 2 tahun kebelakang, Beliau sakit keras, tetapi Beliau pesan tolong kendaraannya jangan dijual".
Saya ikut sedih dengan cerita Ibu ini mengenai suaminya yang umurnya padahal dibawah saya beberapa tahun. Begitulah maut yang tidak bisa kita ketahui kapan datangnya. Cuma pesan itu yang membuat saya kagum. Betapa teguh janji itu hingga ajal tiba pun masih sempat dia sampaikan kepada istrinya. Saya tidak bisa berkata apa-apa selain berusaha untuk membantu Ibu dengan dua anak ini. Saya katakan bagaimana jika mobil itu saya beli. Saya tahu mungkin pesan untuk tidak dijual itu buat orang lain dan siapa yang menyangka jika saya berpikir sejauh ini untuk bertemu dengan suaminya. Saya pikir tidak ada hal yang kebetulan dan setiap kejadian pasti ada alasannya. Istrinya sempat berlinang air mata ketika saya katakan untuk membeli mobil itu dan dia tampak ikhlas. Sebuah kendaraan tua mungkin bisa sangat berharga, namun yang satu ini bagaikan sebuah buku tua langka yang isinya ilmu pengetahuan yang bisa membuka pikiran Manusia untuk kebaikan. Memiliki sesuatu yang kita sayangi kemudian melepaskannya adalah hal yang berat namun setelah itu akan ada jalan lain yang terbaik. Dan jika kita sanggup memilikinya kembali, seribu satu kemungkinan terjadi dan itu tidak bisa dinilai dengan apapun.


•Tempat terindah
Saya merasakan haus siang ini, mengelilingi kota dengan mobil kenangan merupakan kilas balik yang luar biasa nyata. Akhirnya saya memutuskan berhenti di sebuah restoran kecil. Kenangan itu langsung merasuk ke dalam pikiran saya. Bahkan saya seolah sedang melihat sepasang kekasih berduaan di salah satu ruang itu. Walaupun ramai pengunjung bagi saya seolah sedang sendiri menikmati kenangan terindah itu. Saya masih ingat yang punya restoran ini dan dulu sangat dekat dengan kami berdua. Bagaimana tidak, setiap istirahat sekolah kami selalu hadir di restoran itu sehingga terkenal dengan sebutan yang lucu. Pacar saya berbeda sekolah dan itu cukup adil sebab masing-masing tidak akan tahu kelakuan kami disekolah. Yang paling menakutkan jika punya pacar satu kelas.
Terkadang memang menggelikan jika kembali mengingat masa itu, rambut yang aneh menurut zamannya, celana yang seperti perancang busana yang gagal. Jika saya melihat mereka yang pacaran saat ini jadi aneh dan lucu. Ysng punya restoran sepertinya sudah lupa dengan wajah saya yang sudah termakan waktu. Begitu juga wajah nya yang kian menua menjadikan dia berbeda. Saya akhirnya menyapa dia dan sampai dia terkejut bagaimana saya masih ingat dan kembali ke restoran itu. Cerita dan kedatangan saya membuat nya terbawa kepada masa lalunya juga. Betapa bahagia orang-orang yang kita temui lagi, betapa mereka seakan dihargai dan dihormati dengan bertemu mereka kembali. Sampai akhirnya saya berphoto bersama sambil mengenang cerita masa lalu yang tiada habis-habisnya. Sesaat saya juga berpikir dimana dia berada sekarang.

•Bangku sekolah
Saya masih ingat ketika guru pelajaran kimia kecewa karena saya ceritanya pamit ke kamar mandi dan kembali setelah satu jam dengan baju seragam yang kotor. Setiap masalah di sekolah justru membuat kesenangan buat saya. Pelajaran kimia tidak saya sukai oleh sebab itu selalu cari-cari alasan. Kebebasan dan keindahan saat sekolah itulah membawa saya untuk kembali mengunjungi sekolah itu. Begitu masuk suasana berubah karena saat itu para pelajar sedang di dalam kelas. Saya mencoba masuk dan berbicara dengan seseorang hingga mereka katakan bahwa nama-nama pengajar itu ada yang sudah meninggal dan ada yang sudah pensiun lalu ada juga yang pindah kerjanya. Saya tidak kecewa karena yang menjadi kenangan saya adalah ruang kelasnya. Saya sempat melihat ke jendela kelas dan merasakan suasana saat itu seperti apa. Seragam itu, papan tulis, meja dan kursi dimana saya selalu duduk bersama teman saya yang pintar tetapi dungu. Dimana saya sempat pacaran sama teman Wanita karena bukunya selalu tersedia buat dipinjam dan orangnya cantik. Dimana saya bertemu pacar di tangga sekolah sambil membawa makanan untuk nya. Dimana saya pertama saling memandang dengan pacar saya hingga dia jatuh karena melamun. Sahabat dan pacar adalah perpaduan yang sanggup membuat susah dan senang. Semua ada di sini dan itu keindahan yang patut di kenang dan setiap orang pasti punya itu.


•Belajar dari mereka dan masa lalu

Seharian ini saya cukup lelah dan langsung kembali ke penginapan. Betapa banyak cerita dan orang-orang yang saya temui dan itu sesuatu yang luar biasa membawa saya kepada mesin waktu. Rasanya perjalanan menuju kota ini harus diakhiri, tiga hari sudah membuat saya bersyukur dan mendapatkan arti dari kehidupan masa lalu yang hanya sekali terjadi. Dan saya kembali kepada kehidupan dan rutinitas semula. Sebelum saya berangkat, saya menyempatkan berkunjung ke rumah saudara untuk melihat keadaan mereka sekaligus menitipkan mobil tua ini. Saya berencana untuk mengirim nya dengan menggunakan ekspedisi kapal laut. 

•Kembali ke rumah
Setibanya saya di Bandara saya disambut istri saya dan anak-anak yang dulu istri ssya ini adalah pacar saya waktu sekolah dan sempat putus nyambung lalu menghilang lalu akhirnya bertemu hingga saat ini. Terkadang untuk mendapatkan yang terbaik itu tidak mudah. Ketika kita berjuang keras maka hasilnya akan bertahan lama tidak lekang oleh waktu.
"Bagaimana perjalanan bisnis- nya sayang?". Sapa istri saya. Saya pun hanya tersenyum sambil memeluk dia dan anak-anak.
 

Thursday, June 18, 2015

Langit biru (cerita pendek)

Berhubung di negeri tercinta ini saat itu untuk urusan pekerjaan tidak ada kemajuan dalam hal penghasilan. Begitu banyak keinginan yang berharap cepat terwujud. Kemudian saya berpikir untuk pindah dan bekerja di luar negeri. Cari-cari informasi melalui teman dan iklan. Secara tidak sengaja juga saya menemukan iklan dan setelah saya hubungi ternyata saya harus ikut belajar di sana selama dua tahun dan sambil belajar baru ikut magang kerja. Hampir satu minggu saya cari agen yang tepat dan resmi hingga akhirnya dapat.  Saat itu saya mendapatkan informasinya dari teman yang pernah bekerja di Australia yang akhirnya dia pulang lagi setelah tiga kontrak selesai. Alasannya dia kurang betah tinggal di sana. Setelah saya hubungi agen itu ternyata memang sedang ada pencarian tenaga kerja dari luar Australia. Perusahaan ini merekrut karyawan spesialis nya dari beberapa negara termasuk Indonesia dan agen ini bekerjasama dengan empat Perusahaan di Australia. Pekerjaan yang saya lamar saat itu teknisi perangkat ringan sebuah Perusahaan berbasis IT. Saya memang pada saat ini bekerja di Perusahaan elektronik data yang cukup baik. Namun saya ingin mencari sesuatu yang berbeda, saya sangat berhasrat untuk pergi ke luar negeri mencari suasana baru, mendapat pengalaman dan ilmu yang berbeda, merasakan lingkungan baru dan tentu penghasilan yang lebih memberikan jaminan buat masa tua. Disamping itu saya baru putus dengan pacar saya yang menikah dengan sahabat saya. Satu hal ini sangat mengganggu pikiran saya. Tapi saya tetap optimis walau pun muak dengan suasana saat itu dan paling tidak kenangan pahit saya bisa terlupakan. Jadi antara ingin bekerja ke luar negeri dan menghindar dari masa lalu yang buruk. Saya pun bercerita kepada Ibu sayà dan Beliau tidak keberatan malah senang dan mengatakan semoga dapat jodoh orang sana sambil mendoakan agar sukses di negara orang.

Tiga minggu yang melelahkan mengurus dokumen dan keperluan lainnya seperti mengurus kesehatan, ke kedutaan dan imigrasi sampai akhirnya berada di Bandara udara menunggu pesawat. Ketika semuanya berjalan lancar saat keberangkatan ke Australia, masalah lain muncul saat baru tiba di sana. Tiba di negara asing tidak lah mudah, saya harus menyesuaikan dengan kebiasaan setempat terutama masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Satu minggu belum cukup untuk bisa tidur nyenyak, banyak sekali yang harus saya pikirkan dan rencanakan misalnya besok harus náik apa ke tempat saya bekerja. Hingga larut malam saya harus membuka peta kota itu agar hafal nama jalan dan rute ke tempat saya bekerja. Saya mau tidak mau mengerahkan kemampuan bahasa asing dan memahami  logat mereka yang kental itu yang bagi telinga saya berlainan sebab saya menganut bahasa Inggris Amerika. Belum lagi bagaimana saya memulai dengan pekerjaan di Perusahaan itu. Semua membutuhkan proses dan pengorbanan yang besar dañ menyita waktu saya. Disinilah saya belajar untuk benar-benar berjuang dan menjadi diri sendiri tanpa ada yang membantu. Inilah resiko yang harus saya lalui terasa berat namun kalau ingat mantan semuanya terasa ringan saja dibanding muak nya saya saat itu.

 Bekerja di darat di negara orang tidaklah juga mudah sampai saya akhirnya bertemu keluarga orang Australia yang sepertinya menikmati hari tuanya berdua. Kami bertemu saat di kedutaan besar Indonesia. Saya sedang mengurus dokumen immigrasi, melapor saya bekerja di Perusaan itu dan memperkenalkan diri bersama kedutaan yang pasti saya membutuhkan mereka. Pasangan suami istri ini sedang mengurus dokumen untuk berkunjung ke Indonesia. Dan saking ramahnya mereka langsung bertanya kepada saya dan terlibat pembicaraan dalam bahasa Indonesia. Awalnya saya ragu bicara bahasa sendiri ternyata mereka cukup lancar juga berbahasa Indonesia. Sampai kami sering bertemu, makan siang dan semakin akrab.
Saya sempat menawarkan jasa jika mereka memerlukan perbaikan elektronik atau apapun silakan hubungi saya dan ternyata saya dapat respon baik dari mereka. Ketika saya membetulkan kendaraannya, mereka menawarkan  saya untuk tinggal dirumah mereka. Mereka bilang rumahnya sering ditinggal karena sering berkeliling Dunia dan sering berkunjung ke pulau Bali, bahkan mereka punya rumah disana. Mereka bercerita bahwa saat pertama berkunjung ke pulau Bali, mereka bertemu satu keluarga yang sangat baik. Bahkan mereka menawarkan untuk tinggal di rumah mereka. Keluarga ini mempunyai usaha kecil kerajinan tangan dan setelah sekian lama usahanya berkembang maju atas bantuan mereka dari Australia ini. Produksi kerajinan tangannya ditawarkan kepada rekan-rekan dari Australia dan Eropa sehingga hasilnya maju pesat bahkan kekurangan modal pun di biayai mereka dan membagi hasil dari penjualannya sampai mereka membuka galeri di Kuta Bali dan sukses menjadi Perusahaan besar. Persahabatan dan semua perjumpaan itu membuat mereka juga  sangat baik kepada saya sehingga mereka pun menawarkan tempat tinggal kepada saya. Mereka mempunyai satu anak perempuan dan sudah berkeluarga dan sudah lama tinggal di Inggris. Begitulah awalnya saya bertemu mereka.
Sudah dua tahun saya berada di Australia dan segalanya tampak berjalan baik. Pekerjaan pun kian menyenangkan bahkan setiap bulan saya selalu mengirim uang membantu Ibu saya di Indonesia. Walaupun sudah sekian tahun memang saya jarang pulang ke Tanah air karena kesibukan disini menyita waktu dan karena juga saya berusaha mencari kesempatan belajar usaha kecil-kecilan. Ketika ada waktu saya menyempatkan pulang bertemu Ibu dan teman-teman lama yang walau hanya beberapa hari saja namun semua kerinduan akan masakan Ibu dan tempat ngobrol di warung pojok tersalurkan.

Tidak terasa sudah 5 tahun saya bekerja di Australia dan saya selalu berusaha menabung untuk berpikir membuka usaha sendiri, berencana buat menikah, sampai berkeluarga dan mempunyai simpanan untuk hari tua. Terpikir juga untuk membuka usaha restoran Indonesia di Australia ini. Di tempat saya tinggal ini sudah ada restoran Thailand dan ramai dikunjungi saat makan siang dan makan malam, jadi saya berpikir bagaimana jika memperkenalkan cita rasa Nusantara. Dari harapan lalu ada hasrat hingga di rencanakan lalu dilaksanakan. Untuk memulai usaha ini saya bekerjasama dengan seorang teman yang kebetulan dari Indonesia. Dia bekerja di sebuah Hotel terkenal sebagai Chef dan seorang sahabat pengusaha muda Australia. Di tempat saya ini cukup banyak komunitas orang Indonesia baik keluarga maupun pelajar. Setelah dipelajari semuanya dengan teliti akhirnya selama 3 bulan proses baru terlaksana dengan menyewa tempat strategis. Untuk membuka usaha saya harus menggandeng orang Australia karena ijin saya di sini sebagai pekerja saja. Bagi saya membuka usaha tidak mudah, saya dari dulu seorang pekerja kantorañ namun punya hobi masak warisan dari Ibu saya. Karena saya masih bekerja di Perusahaan maka saya ambil keputusan untuk jam siang nya saya percayakan kepada sahabat saya orang Australia ini. Dia mempunyai usaha toko serba ada dan sudah dipercayakan dan dikelola adiknya jadi dia punya waktu untuk bekerja sama dengan saya. Untuk bagian malam saya gantian dengan dia mengelola operasional restoràn tersebut. 

Setelah hampir satu tahun dan usaha restoran saya berjalan lancar, sudah banyak pelanggan maka saya putuskan untuk berhenti bekerja. Kini saya penuh waktu bisa fokus dengan usaha restoran tersebut. Saya sangat menikmati semua pekerjaan baru ini.

Mengurus usaha memang kadang menyita waktu sehingga tidak peka dengan keadaan yang seharusnya terjadi. Namun sesuatu hal itu sudah harus terjadi maka tidak akan terlewatkan. Begitu juga dengan kehadiran seseorang dalam hidup saya. Seorang Wanita datang ke dalam hidup saya dan yang ini cerita begini:

Saya berjumpa dengañ istri saya yang orang Australia ini berawal ketika saat itu saya sering menabung ke sebuah Bank setempat. Karena kami sering bertemu sehingga wajah ini tidak asing yang di mulai dari senyuman simpul hingga senyuman malu sampai pada suatu hari dia menyapa saya,
"Dari Indonesia?". Itulah awal nya hingga terus berkembang sampai kepada hubungan serius ke pelaminan. Seorang Wanita menyapa duluan yang artinya itu kabar baik untuk mulai suatu hubungan. Menurut cerita jika Wanita menyapa duluan artinya si Wanita tertarik dengan Pria karena jatuh cinta. Namun jika Pria menyapa duluan artinya suka bukan berarti cinta. Dari waktu ke waktu ada semacam tanda-tanda getaran dalam diri saya dan hal itu merambat bagai aliran listrik tegangan tinggi yang pada akhirnya saya merasakan kalau dia juga suka mencuri-curi pandang saat bekerja sebagai kasir di Bank tersebut. Buat saya awalnya tidak ada kejutan karena dia bisa saja ramah terhadap semua orang karena bagian dari pelayanan sebagai seorang kasir. Namun setelah sekian waktu saya merasakan ada keganjilan dalam setiap pertemuan bahwa setiap kali mau menabung kenapa saya berusaha sangat rapih, berusaha sewangi mungkin, terkadang senyum-senyum sendiri tanpa saya sadari dan ada perasaan begitu bahagia agar cepat bertemu dia. Jantung saya berpacu cepat saat mau bertemu dia. Satu hal yang membuat ada sesuatu yang membuat sulit jika dijelaskan sekali apa sebabnya, mungkin saat itu suara dia tidak memancing sesuatu dibanding raut wajahnya saat memandang saya yang seolah mengatakan betapa dia pun sedang jatuh hati. Tingkah lakunya yang bikin penasaran, setiap berhadapan dia seolah sedang ber imajinasi dan pupil matanya membesar begitu indah. Saya pun bisa merasakan dan melihat bagaimana semangat dan antusiasnya dia setiap saya duduk di kursi yang sama setiap saya ke Bank itu. Panah asmara sudah menancap di antara kami benar-benar terasa kuat. Sehingga berikutnya sebuah pertemuan-pertemuan yang semakin seru saja. 
Hingga dia bercerita saat kami makan siang bersama di sebuah restoran dan kami memutuskan mengambil meja kecil dengan dua kursi dan berada pinggir teras halaman dekat jalan dipayungi sampai  tangannya menyuapi saya dengan kue manis betapa dalam perhatian nya kepada saya dan dia juga bercerita bahwa setiap liburan dia selalu ke Bali, Medan dan Bandung, hal itu membuat pembicaraan kami saling bertautan karena dia faham banyak tentang Indonesia. Saya sangat kagum betapa dia kadang lebih tahu tentang Indonesia seperti makanan kesukaan nya adalah gado-gado dan daging rendang. Tetapi sayà pun tidak ketinggalan informasi mengenai Australia karena saya dulu pendengar siaran radio Australia.   
Kami sudah berpacaran hampir 4 bulan dan saya juga kadang heran bahwa kami tidak pernah bertengkar, sangat cocok satu sama lain, saling menghargai dan mengalah, saling empati dan kita berjalan pacaran apa adanya. Dia selalu mengatakan untuk selalu menjadi diri sendiri. Dia banyak mengajari saya sesuatu yang hebat, cita-cita nya dulu ingin menjadi konsultan pernikahan. Kemudian saya berpikir apa memang kami sudah mendapatkan seseorang yang tepat? Ataukah justru karena perbedaan budaya dan bangsa sanggup membuat semua ini berbeda? Ataukah karena pola pikir kami tidak terlalu kuatir dengan masa depan, fokus pembicaraan pada diri kita berdua? Sedemikian mudah kah semua ini? Jika seorang penyanyi maka antara lagu dan musiknya senada dan seirama, jika sebuah makanan maka ramuan bumbunya pas di lidah. Kami bukannya seperti cerita dalam film romantis hanya saja kami merasakan begitu kuat rasa kekuatan cinta ini terkadang dengan diam pun kami sudah cukup menyalurkan perasaan masing-masing. Kami bisa berbicara dalam hati seolah kami sudah tahu kelebihan dan kelemahan ini. Begitu nyaman dan indah. Kami benar-benar melalui hari demi hari dengan baik.
Dan saya pun akhirnya bertemu dan diperkenalankan dengan orang tuanya saat diundang untuk makan malam bersama. Orang tuanya ramah dan cepat akrab walau saya awalnya gugup juga namun suasana hangat membuat kàmi menguasai percakapan. Mereka sangat menghargai apapun keputusan dari anaknya. Keluarga dia sangat bahagia dan rukun saya bisa melihat cara mereka menerima saya dan pasangan orang tua ini masih terlihat mesra. Setelah beberapà pertemuan saat itu pun kami mengumumkan akan segera menikah. Hubungan kami tidak punya masalah apapun selama masa pacaran itu bahkan perbedaan keyakinan pun bisa kami lalui dengan baik dengan solusi yang baik. Saya juga sudah siap menyambut masa depan bersama dia walau pun ada satu perbedaan prinsipal namun dia bisa mengerti dan mengikuti saya.

Hingga akhirnya kami menikah di Indonesia. Pernikahan kami berjalan lancar dan sederhana, beberapa keluarga dan sahabat dari Australia juga hadir saat itu, kemudian untuk urusan resepsinya diadakan secara sederhana juga namun hikmat.
Setelah itu kami berbulan madu ke Bali selama tujuh hari dan akhirnya kembali ke Australia.
Usaha restoran kami terus berjalan baik dan istri saya pun berhenti bekerja lalu ikut mengelola restoran bersama. Kami dikaruniai satu anak perempuan dan dengan usaha restoran ini kami punya waktu untuk berlibur bersama ke Indonesia untuk bertemu Ibu saya dan sanak keluarga lainnya, bahkan kami juga mengajak Ibu saya ke tempat tinggal kami di Australia untuk liburan. 
Hingga kami mempunyai tempat restoran sendiri  bahkan membuka cabang di tempat lain dan semuanya tetap berjalan baik melihat anak kami tumbuh bersama lalu hidup terus berjalan, banyak kejadian-kejadian berlalu bagian dari perjalanan hidup. Suatu saat kita akan kehilangan apa yang kita sayang dan jika kita mengerti semua pemberianNYA maka kita pun akan ikhlas jika kehilangan dan Tuhan tahu itu.

Sunday, May 3, 2015

Terlambat (cerita pendek)


Sore ini aku mendapatkan pesan singkat,
"Hari ini, besok dan nanti kamu tidak perlu hubungi, kirim pesan atau datang ke rumahku. Tidak usah kamu tanyakan kenapa. Jika memang kamu mencintaiku, pasti akan kamu lakukan".

Seketika aku merasakan sesuatu yang menghujam dada ini. Aku begitu gelisah dengan pesan yang datang dengan tiba-tiba padahal baru kemarin aku bertemu dengannya dan ketika ku pulang dari rumahnya kami pun saling berpelukan dan mengecup bibir ini penuh cinta dan sayang. Dan aku tahu dia sangat bahagia.

Dua hari kemudian aku hubungi dia, tidak sekalipun dia angkat telepon nya. Pesan singkat pun tidak dibalasnya. Aku semakin gelisah dan kuatir. Apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan. 

Dan malam itu aku datang menemuinya, sejenak aku termenung karena tampak rumah nya tampak sepi. Pikiranku semakin bertanya-tanya apakah sebenarnya semua kejadian ini? Saat itu perasaanku seperti Dunia ini seolah tiada orang satu pun yang hidup di dalamnya begitu sunyi pada malam itu. Aku begitu sangat kehilangan dia. Aku ingin tahu kenapa dia melakukan semua ini. Apakah dia baik-baik saja? Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa dia sangat berharga dalam hidupku. Aku merindukan senyumnya, suaranya dan matanya.

Hari demi hari berlalu hingga tidak terasa sudah 2 bulan aku tidak bisa menemukan dia, seolah hilang dari muka Bumi ini. Apakah aku sedang dalam percobaan nya untuk mengetahui sebesar apa keinginanku untuk bisa menyayangi nya? Ataukah dia sedang berusaha menghindariku? Atau dia sedañg dalam masalah?

Malam ini tidak biasanya aku begitu gelisah terbangun dari tidur dan badanku sampai berkeringat lalu setelah membasuh muka dan  menyalakan TV hingga jam menunjukan pukul 3 pagi. Kegelisahan ini begitu kuat hingga aku ambil telepon dan menghubungi dia. Ternyata tidak nyambung, hingga aku kirim pesan singkat pun tidak masuk juga. Hingga mataku tertutup rapat karena sudah ngantuk berat. 

Hujan sore ini membuatku malas beranjak untuk pulang. Tetapi aku sudah lelah bekerja rasanya ingin cepat kembali dan istirahat di rumah. Saat diperjalanan pulang aku dapat pesan singkat,

"Datanglah secepatnya ke rumahku"

Betapa aku sangat bahagia mendapat berita itu. Aku kembali tersenyum dan bahagia saat itu. Ketika kuperhatikan lebih jelas ternyata  nomor teleponnya bukan dari dia. Langsung aku hubungi dia dan tidak diangkat teleponnya. Bahkan nomor itupun tidak aktif. Kebahagiaanku saat itu membuat lupa dengan situasi saat itu. 
Beberapa hari kebelakang  memang pernah menghubunginya tetapi tidak masuk nada suàra teleponnya, seolah nomor itu sudah tidak dipergunakan lagi.
Segera pada saat itu juga aku datang ke rumahnya. Seseorang membukakan pintu dan Wanita ini pun menyuruh saya masuk.
"Silakan Mas Rio masuk...."
Dia itu ternyata adiknya Widi.
Sungguh adiknya berbicara lembut dan penuh perasaan saat itu seolah bukan karakternya saat itu. Dia menyuguhkan secangkir teh panas dan terus berbicara tentang Widi dan hubungannya denganku. Aku hanya bisa mendengarkan cerita masa kecilnya dengan Widi. Dan aku pikir dia sedang menemani aku sambil menunggu Widi di kamar yang mungkin sedang merapikan dirinya.

"Widi tidak bermaksud untuk meninggalkanmu Mas, dia bilang ingin menguji kesetiaan dan cinta Mas. Widi sempat mengatakan tolong sampaikan maaf karena sudah membuat Mas bingung".

Sebenarnya aku semakin bingung dengan semua pembicaraan ini hingga aku bertanya;

"Widi nya sedang kemana?"

Tampak wajah dan kedua mata adiknya itu menjadi basah sambil berkata;

"Mas Rio apa sudah tahu kalau kakak aku itu mengidap penyakit kanker?"

Jantungku saat itu berdetak kencang dan sekujur badanku tiba-tiba lemas. Perasaanku berubah jadi terharu mendengarnya. Firasatku ini suatu kabar buruk.
Dengan pelan dan sedih kakak nya mengatakan;

"Widi sudah pergi....Mas...Widi .....pergiii"

Aku hanya terdiam kaku dan muka ku pucat saat itu. Jantung ini seperti mau berhenti. Kepalaku panas karena darah ini langsung mengalir seluruhnya ke kepalaku. Aku menjadi pusing dan pandanganku seolah buram. Saat itu juga aku mendekatkan diri ini ke kakak nya dan kupeluk erat dia. Tangisan nya tidak tertahankan begitu juga aku yang sangat terpukul dan aku semakin erat memeluk dia.
"Kenapa tidak ada yang mengabari aku? Kenapa harus sekarang?"

Widi sudah lama menderita penyskit ini walau secara jasmani terlihat sehat. Ketika aku dan Widi berpisah selama belasan tahun itu dia mengalami sakit di bagian pundaknya. Setelah di vonis dokter bahwa dia mengidap kanker. Dan umurnya tidak akan bertahan lama walau sudah menjalani kemo dan 
Ketika aku kembali menemuinya, dia tidak pernah membicarakan hal itu. Dia selalu memperlihatkan kebahagiaan di depanku. 

"Widi cuma ingin agar kamu bisa melanjutkan hidup ini dengan seseorang yang bisa bersamamu sampai tua dan bisa bahagia, karena Widi tahu dia tidak akan bertahan lama lagi".

Aku sendiri pun tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu bercampur aduk dan harus bagaimana selanjutnya. Pikiranku menjadi beku. Rasanya hancur dan sangat kehilangan orang yang aku sayang itu.


Hidup terus berjalan, senantiasa dari hari ke hari tidak sama ceritanya. Sudah 3 tahun ini aku tinggal di sebuah kota yang jauh dari tempat dimana kenangan aku dan dia bersemai. Rasanya berat untuk tetap berada dalam kenangan indah di masa lalu itu. Beberapa orang ada yang mengejarnya dan ada yang menyimpan selamanya dalam hidup. Setahun sekali aku selalu datang mengunjungi Widi di persinggahan terakhirnya. Selalu aku ingin agar tempat terakhirnya wangi oleh bunga-bunga.

Jam menunjukan pukul 5 pagi dan aku bangun di pagi ini menyambut hari yang baru walaupun tidur aku masih saja ditemani sebuah guling.
Tidak ada yang sanggup menggantikan seorang Widi dalam hidupku. Walau teman-temanku mengatakan bahwa aku menutup hati ini buat orang lain, aku terlalu egois, namun sebenarnya tidaklah seperti itu. Aku sudah berusaha meninggalkan masa lalu tetapi aku masih kehilangan nya. Semua tidak sama dan perasaanku sulit untuk bisa mengerti lagi dari orang lain. Mungkin Widi sudah ada dalam jiwaku ini sebelum aku lahir ke Dunia. Ketika waktu dan kesempatan tidak berpihak, kita harus berpisah dan ketika waktu dan kesempatan itu tiba ternyata aku dan dia harus dipisahkan selamanya walau masih bisa bertemu namun singkat mungkin jodohku sesingkat itu.  Aku menemukan satu hal yang ada dalam dirinya dan orang lain tidak bisa melihatnya. Cinta kami itu tidak terkalahkan walau pernah dipisahkan oleh waktu dan sulit aku jelaskan bahkan dengan kata-kata sekalipun. Biarlah orang lain mengatakan hal itu omong kosong belaka yang sebenarnya mereka percaya hal itu namun sudah terlambat.
Lebih baik demikian hidup adanya walau harus melewati hari-hari sendiri daripada aku menyakiti dan membohongi cinta dan perasaan kepada seseorang. Aku hanya akan menunggu keajaiban terjadi dan jika itu terjadi artinya dia merelakan setengah cintanya untuk aku berikan kepada seseorang.


**
M.E